Kamis, 01 Desember 2016

Sebuah pengalaman dan pengorbanan

buah pengalaman dan Pengorbanan
Yang Dua Orang Sahabat

Suatu hari didalam perjalanan terdapat dua orang Sahabat yang sedang bertengkar, salah satu dari mereka menampar sahabatnya. Pria itu merasakan sakit, Namun pria itu diam saja dan menulis di atas pasir: "Hari ini sahabatku menamparku" 

Dua orang sahabat ini terus melanjutkan perjalanan dan menemukan sebuah oasis. Mereka memutuskan untuk berenang di mata air dan tiba-tiba orang yang ditampar tadi tenggelam, tapi temannya menyelamatkannya. Ketika ia sadar, ia menulis di sebuah batu: "Hari ini sahabatku menyelamatkan hidupku."

Sahabatnya pun bertanya : Ketika aku menyakitimu, kamu menulisnya di pasir dan sekarang saat aku menyelamatkanmu kamu menulisnya di batu. Mengapa?

Dia menjawab: Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya di atas pasir, sehingga angin bisa menghapusnya. Tapi ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik bagi kita, kita harus mengukirnya di atas batu, sehingga angin tidak bisa menghapusnya.

Semoga bermañfaat pada kekecewaan


Dari sebuah kisah ku kini Aku lelah, capek, bosan, jenuh, kehidupan sangat tidak adil bagiku. Dibilang Aku gadis baik, pintar, cantik, kuat dan sabar. Bukan aku yang bilang, tapi mereka, mereka yang katakan itu. Apa benar yang mereka katakan padaku? Aku cantik? Baik? Pintar? Strong women? Sabar?

Tidak aku tidak seperti itu, aku tidak sebaik yang mereka pikir. Aku bukan wanita yang didambakan setiap laki-laki, aku tidak seperti itu. Aku tidak sebaik itu. Tapi akupun tidak seburuk mereka yang men-judge diriku.

Diam-diam aku menyerah. Aku kalah. Aku lelah dengan kehidupan. Aku ingin pergi dari semua yang mengekangku dan harus selalu mengagungkan kesabaran. Bertahun-tahun bertahan, bertahan dalam jerit dan tangis, dalam bungkam yang tak mampu kusuarakan, dalam bulir air mata yang aku telan sendiri. Di bawah kegelapan yang sama sekali tidak bertepi. Aku menyerah! Aku kalah!

Anggap saja Nama ku Restu, gadis biasa yang terlahir dari keluarga sederhana. Kesederhanaan yang selalu kunikmati. Kesederhaan yang selalu bisa membuatku tertawa. Kesederhanaan yang bisa bangga dengan keluarga besarku.

Tangisku perlahan pergi, dukaku perlahan kabur, waktu bisa menyembuhkan jiwa ini dari sakitnya kehilangan. Waktu, nenek, kakak, Adek, Ayah, dan Ibu yang membuatku terbiasa bisa menjalani hidup yang pana dan keras ini,

Aku Restu, usiaku 16 tahun yang belajar dan sekolah yang cukup membanggakan bagiku. Aku tertawa, bahagia, senang bisa mendapatkan teman-teman baru disana.

Waktu terasa cepat sehingga aku mempunyai bisa dibilang kekasih yang sangat aku sayangi dan cintai.

Aku sangat mencintainya, Aku sangat sayang padanya... Hingga disuatu hari Kini aku berdua dengan nya, tanpa kakak, Ayah, ibu dan Sodara-sodara yang lainnya. Hanya berdua tanpa ada penghalang bagi ku dan kekasihku,...

Tanpa tersadar waktu berjalan dengan perlahan demi perlahan kita nikmati bersama.. Aku heran, Aku bodoh, Aku wanita yang tak tau malu sampai aku bisa melakukan hal seperti ini yang dilarang Agamaku dan selalu diajarkan keluargaku... tetapi sekarang aku telah mengecewakan semuanya yang sudah aku percayakan..

   " Aku   : kenapa kamu melakukan ini padaku

   " kekasihku  : Karna aku sangat sayang sama kamu.. aku janji aku akan nikahin kamu.. Aku Sangat sayang kamu sayang...

    " Aku  : Benar kamu ga bakalan tinggalin aku yang sekrang dah kau renggut kehormatannya.

    " kekasihku  : Iyaa.. sayang aku janji sama kamu (sambil ngecup keningku)

Aku tak lagi bersedih akan hal itu, aku telah menemukan tempat sangat senang dan kecewa sangat.. tapi apalah daya sudah terjadi...

^^^^^

 Hinga saat umurku bertambah 1 tahun dan aku merasa Takut jika aku harus kehilangan satu-satunya orang yang aku miliki. Bagaimana hidupku nanti jika tak ada lagi seorang disampingku, akankah aku sanggup menghadapi kejamnya dunia sendiri. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Entahlah.

Kini aku pergi dan melupakan semuanya yang terjadi padaku Dengan uang yang sesekali diberikan kakak, aku bisa tetap pergi sekolah. Hanya kakaklah yang menjadi harapan saat itu. Walau kini memang kakak telah berkeluarga, namun dia tak jarang menemuiku di rumah rotan sederhana milik kami.

Hanya pesan yang terlontar dibenak ku.. Kamu harus janji Ndo, apapun yang terjadi, sebesar apapun cobaan hidupmu jangan pernah menyerah, karena Gusti Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar”

Aku takut sendiri. Aku tidak mau sendiri.


^^^^^

Sayang, kenapa kamu tega meninggalkanku sendiri, sekarang dengan siapa aku berbagi cerita, dengan siapa aku akan berbagi tawa, pada siapa aku harus bersandar ketika aku merasa dunia begitu asing untukku, kenapa kamu pergi?

Sekali lagi aku harus merasakan sakitnya kehilangan.


Ibu yang meninggalkanku di saat usiaku masih terlalu kecil, Ayah yang merantau dan hanya setahun sekali mengunjungiku bahkan itupun jarang, kakak pertamaku yang juga pergi di saat ia berjuang melahirkan dalam kesakitannya hingga ia menyerah. Kenapa? Kenapa ENGKAU lakukan ini padaku? Kenapa Kau ambil orang-orang yang aku miliki, dan sekarang Kau juga mengambil dia dariku? Di kemudian, apa lagi yang akan Kau ambil dariku? Kenapa bisa Kau berikan skenario ini untuk aku perankan, kenapa Tuhan?

Sekarang aku sendiri dirumah ini. Rumah berdindingkan kayu, beratapkan bilik. Dulu aku cinta rumah ini, rumah sederhana dengan kehidupan sederhana namun bisa aku nikmati dan syukuri. Tapi sekarang, haruskah aku masih mencintai rumah ini? Haruskah aku mencintai hal yang membuatku terluka? Haruskah aku tetap ada disini dengan seribu lara yang membuatku tak ingin kembali menatap gelapnya dunia. Aku rapuh, aku hancur, aku sendiri, hanya sendiri. Kau telah mengambil mereka Tuhan.

^^^^^

Tuhan, Maafkan hamba-Mu yang Tak Pandai Bersyukur Ini

“Sekarang kamu tinggal sama kakak, Yah. Keponakanmu pasti senang jika ada bibi-nya disana”

“Apa aku tidak akan merepotkan kak?”

“Tentu tidak Res, aku ini kakak kamu, mana mungkin membiarkan kamu sendiri”

“Aku sayang kakak”

“Kakak pun sama sayangnya sama kamu Res”

Beruntunglah Tuhan masih menyisakan satu yang aku miliki. Kini aku telah bersama kakak dan tinggal di rumahnya. Suami kak Tryana juga menerimaku dengan senang hati, begitupun dengan si kecil Aresty yang baru berusia 3 tahun dan selalu riang ketika bermain bersamaku.

Perlahan aku mulai menikmati semua kehidupan.


Sebelum pergi sekolah tak lupa aku selalu membantu kakak membereskan rumah, sekedar mengepel lantai, cuci piring atau mungkin menjemur pakaian walau tak setiap hari. Aku  berusaha untuk bisa melakukan semua pekerjaan rumah, karena di sini aku sadar hanya menumpang hidup pada keluarga kak Tryana walau kak Tryana tak pernah menyuruhku melakukan semua itu.

^^^^^

Aku Restu, kini usiaku 17 tahun dan duduk di bangku kelas 3 SMA, jangan tanya dari mana biaya sekolahku! Tentu saja Ayahku masih ingat jika dia memiliki seorang anak. Ayah yang membiayai sekolahku, walau kini ia entah sedang ada di pulau mana, tapi aku tahu dia baik-baik saja. Lagi pula lebaran tahun ini ayah akan pulang.

Empat tahun hidup dengan kakakku, walau kadang aku seolah ingin pergi saja dari rumah ini. Rumah yang mendadak sangat menyeramkan. Rumah yang semula aku anggap sebagai pelindungku, kini berubah, seakan disini jua aku akan celaka.

Aku gadis baik, pintar, cantik dan rajin. Sekali lagi bukan aku yang katakan itu, tapi orang-orang yang menilaiku demikian. Dan aku memang cantik!

Aku harus pergi!


Aku menangis, menangis dalam kesendirianku. Membanting pintu kamar dan segera menguncinya. Aku gamang, tersedu-sedu, berteriak. Berteriak tanpa bisa aku suarakan. Membantingkan semua yang ada dihadapanku. Aku marah, marah pada Tuhan yang mengharuskanku menjalani takdir ini.

Dalam pandangan yang masih nanar, dengan samar aku melihat ibu, nenek dan kak Syahni menghampiriku. Namun pandangan itu sesekali kabur, pandangan itu seperti berputar-putar dan membuat kepala pusing. Bayangan-bayangan itu seolah mengajakku pergi bersama mereka. Bawa aku ke Surga!

^^^^^

Aku Restu,  akan melawan kejamnya kehidupan. Aku Restu ,akan bangkit dari keterpurukan.


Sepulang sekolah, aku tak lantas pulang. menghabiskan waktu menyusuri jalanan yang dipenuhi krikil-krikil kecil. Sesekali aku mengambilnya dan melemparnya jauh, entah apa yang sedang aku pikirkan dalam perjalanan yang entah akan membawaku kemana.

Aku Restu, aku bukan seseroang yang tidak memiliki teman. Aku punya banyak teman. Namun, aku tak bisa membagi ceritaku dengan mereka, aku tak mungkin berbagi kegamanganku pada mereka. Aku tak ingin satu orangpun tahu tentang apa yang aku alami dirumah semenjak aku masuk SMA. Iya, semenjak aku tumbuh menjadi remaja dan memasuki usia SMA rumah itu berubah bagai neraka yang ingin aku hindari.

Selama ini aku menyembunyikannya dari kak Tryana dan keluargaku Selama ini aku menghindar dari lelaki itu. Tapi bayangkan, aku menghindar namun kami ada di rumah yang sama.

Dalam gelisah, galau, derita, kesakitan, seorang teman datang bagai Peri. Dia selalu ada untukku, dia selalu menemaniku dan membuatku tertawa. Aku heran dengannya yang bisa selalu tertawa bahagia, gonta-ganti HP keluaran terkini, tas ber-merk, jam tangan yang bagus, dan banyak hal yang menggambarkan jika dia seorang yang banyak uang. Namun, setahuku kehidupannya tidak lebih bahagia dariku. Yang aku tahu dia berasal dari keluarga biasa sepertiku. Whatever, aku tidak menghiraukan itu. Kini dia adalah sahabatku yang selalu ada untukku.

Jangan Terlalu Mencintaiku, Aku Bukan Orang yang Akan Memberimu Kenyamanan Hidup

Perlahan aku mulai masuk dalam dunia sahabatku itu, dunia yang membuatku perlahan berani membuka jilbab yang selama ini menutupi anggun tubuh indahku.

Aku pergi dari rumah dengan mengenakan jilbab, namun ketika bersama sahabatku aku membukanya seolah ini tak jadi masalah berarti. Pamit sekolah namun aku tak ada disekolah. Membelokkan kaki pada tempat yang menurutku bisa memberi bahagia dan ketenangan.

Aku kalah! Kalah dengan kehidupan keras ini


Semakin hari aku semakin berani, tak pulang ke rumah dalam hitungan hari. Aku tahu akan membuat kak Tryana khawatir namun itu hanya sedikit dari yang apa dia pikirkan.

Aku tak lagi pergi ke sekolah. Pergi bersama sahabatku yang juga tak sekolah. Kami jalan ke mall dengan baju mini dan rambut terurai indah tanpa jilbab yang menutupi lagi. Tanpa baju berlengan panjang yang menutupi kulit putih dan mulusku. Kini aku pertontonkan tubuh molek dan putihnya kulitku pada dunia. Dengan harapan dunia aku memelukku.

Aku memang mengenakan rok mini, baju tanpa lengan, sepatu ber-hak tinggi dan rambut terurai indah. Mempertontonkan keindahan yang kumiliki. NAMUN! aku bukan wanita murah yang memberikan kehormatannya dan keperawanannya demi uang! Aku masih menjaga mahkotaku! Aku bukan wanita bodoh yang mau kehilangan keperawanan demi selembar uang. Aku hanya memanfaatkan apa yang aku miliki untuk mendapat apa yang seharusnya aku miliki setelah belasan tahun menunggu datangnya bahagia yang tak kunjung menyapaku.

Hal yang sudah biasa ketika menemani lelaki-lelaki ber-jas dan berduit untuk sekedar jalan, mengobrol, menemani mereka berkaraoke. Hal yang sudah biasa ketika tanganku disentuh, itu tidak akan membuat keperawananku hilang! Aku tidak menjual diri! Tapi dari sana aku dapatkan lembaran-lembaran merah yang selama ini sulit aku dapatkan. Dari sana aku bisa membeli apapun yang aku mau.

Aku tekankan sekali lagi, aku bukan wanita yang menjual diri! Aku hanya menemani pria-pria hidung belang yang mungkin malu jika menggandeng istri-istri mereka sekedar berjalan, maka mereka mencariku yang cantik, segar dan menawan! But I’m not a whore.

Aku sudah terbiasa dengan kehidupan ini, walau kadang rindu menyerang. Rindu akan aku yang dulu, rindu akan pakaian tertutup, rindu anggunnya diriku, rindu kesederhanaan. Rindu semua yang sebelumnya pernah aku jalani ketika menjadi Sean yang selalu dibanggakan.

Sudah aku katakan aku kalah! Aku kalah… aku tidak sebaik yang mereka katakan.

^^^^^

Bukan kak Tryana tidak mencariku, namun aku sengaja mengganti nomer ponselku agar tak seorangpun yang bisa menghubungiku.

Satu minggu, hanya satu minggu aku tak pulang. Aku rasa aku harus pulang, bukan pulang untuk tinggal, tapi pulang untuk pamit.

Aku kembali, kembali pada kak Tryana. Mencari-cari alasan dimana aku selama satu minggu.

“Syukurlah kalau begitu. Lagian kamu kok camping enggak bilang-bilang sama kakak … Tapi kakak percaya kamu anak yang baik dan bisa menjaga diri dengan baik” Respon kak Tryana ketika aku bilang jika selama satu minggu ini ada camping mendadak dan tidak sempat pamit. Dan selama camping pula ponselku mati karena tidak ada sinyal.

Kakak salah! Aku tidak sebaik yang kakak pikir.


Satu hari aku di rumah. Seperti biasa, rindu membantu kak Tryana. Mengepel, cuci piring, menjemur pakaian dan membereskan semua pekerjaan rumah. Dan … aku lakukan itu dengan sangat gesit. Kini semua telah kinclong berkat tangan kub.

Setelah selesai, aku kembali ke kamar. Semua masih sama, hanya sedikit berdebu karena mungkin tidak dibersihkan selama satu minggu.

“Kak Try, makasih selama ini telah menerimaku. Makasih karena kakak telah menjadi kakak yang terbaik untukku. Terima kasih untuk segala kasih dan sayangnya selama ini. Terima kasih untuk semuanya. Restu sayang kak Try.

Oh, yah kak. Kalau Restu tak pulang jangan cari Restu yah. Restu akan baik-baik saja. Restu akan cari kerja agar tidak merepotkan kakak terus. Dan sekolah … kakak tak usah khawatir, Restu akan tetap sekolah.

I Love You kak

^^^^^

Aku pergi …

Sudah 5 bulan aku tak pernah kembali, aku tahu kak Tryana pasti khwatir dan merindukanku. Namun aku tetap tidak bisa kembali. Aku juga tahu jika kak Tryana katakan ini pada Ayah, ayah juga akan khawatir, tapi ayah tak bisa langsung mencariku karena dia harus menyebrang lautan untuk sampai disini. Terima kasih untuk semuanya.

^^^^^

LIMA BULAN, dan aku sedang berusaha menggugurkan kandunganku yang berusia tiga bulan.

Sudah aku katakan aku kalah!

Tolol, bodoh, gila, pendosa, munafik, so’suci …

Aku kehilangan apa yang kujaga. Aku kehilangan untuk yang kesekian kalinya. Jika dulu aku kehilangan nenek, ibu dan kakak. Tapi kini, aku kehilangan diriku sendiri.

Aku tidak menjual diri. Aku tidak menjual keperawananku. Namun indahnya tubuh yang aku pertontonkan telah membuat aku terjerembab dalam jerat si pendosa yang membuatku tak sadarkan diri.

Semua memang telah berubah, hal yang semula kuanggap enteng, kecil tak berarti justru perlahan menarikku lebih dalam dan membuatku sulit untuk keluar.

Aku akan tetap menggugurkan kandunganku. Aku tidak bisa biarkan dia semakin besar dan membuat perutku buncit, apa yang akan aku katakan jika kak Tryana tahu ini.

Sahabatku? Iya dia memang selalu ada untukku, bahkan diapun masih tetap ada dan menemaniku untuk menggugurkan kanduangan ini. Dia pula yang memberitahu ini itu yang bisa aku lakukan untuk bisa membunuh janin yang kini di rahimku.

^^^^^

Satu bulan usahaku gagal. Janin ini begitu kuat. Dia masih tumbuh di rahimku. Kandunganku kini 4 bulan. Aku harus segera memusnahkannya.

Aku menyesal. Sangat menyesal. Berawal dari hal kecil yang kuanggap tidak akan membuat hidupku hancur jika hanya sekedar berpenampilan terbuka tanpa membuka. Tapi kini aku sadar, sesuatu yang besar selalu di awali dengan hal kecil, begitupun dengan kehancuran.

^^^^^

Kak Tryana? Ayah? Mereka mencariku?

Mereka mencariku. 

Menemukanku dalam keadaan yang sangat malu untuk dijelaskan. Pakaianku tidak lagi sama seperti yang selalu terlihat sebelum aku mengenal dunia yang lebih gelap, malu sekali rasanya ditemukan dalam keadaan yang kotor.

Aku tidak tahu ini ketidak sengajaan atau memang mereka mencariku di mall ini. Ustadzah Maryam guru ngajiku yang selalu membanggakanku sebagai murid kesayangngannya, seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat kini. Aku tak tahu apa kata yang akan keluar dari mulutku, aku hanya menangis, menangis di depan Ustadzah. Seolah mengerti apa yang ada dipikiranku, tanpa bersuara Ustadzah Maryam lantas memelukku, memelukku erat dan menangis tersedu tak kalah denganku.

Ustadzah Maryam membawaku pulang. Aku tidak sanggup menolak. Tubuhku terasa lemas sekali, mungkin efek dari jamu-jamu penggugur kandungan yang selama ini aku konsumsi. Sulit rasanya untuk berontak. Langkahku gontai.

^^^^^

Mereka? Ayah? kak Tryana? Suami kak Tryana? Kini ada di hadapanku. Mereka kecewa, bahkan sesekali sapu lidi itu mendarat di tubuhku, yang kurasa dalam setengah sadar pukulan itu berasal dari tangan lembut kak Tryana juga dampratan keras dari suami kak Tryana yang masih kental dalam ingatanku jika dia juga telah mencoba melakukan hal tak wajar dan memalukan pada iparnya ini.

“Bisa-bisanya kau lakukan ini. Kau telah membuat aib, Sean” ucap kak Tryana padaku dengan tangis yang sesegukan menahan kecewa.

Ayah menangis, kemudian ayah memelukku.

“Sudah Tryana hentikan!” bentak Ayah pada kak Tryana.

“Maafkan ayah reatu, selama ini ayah jauh darimu dan tak bisa menjagamu”


Aku menangis di pelukan ayah tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutku.

^^^^^

Seorang sahabat datang padaku juga pada keluargaku. Bukan… bukan sahabat yang selalu ada bahkan di saat aku ingin membunuh janin ini. Bukan dia, karena keluargaku telah melarangnya menemuiku lagi. Ustadzah Maryam dan keluarga tak mengizinkan aku bertemu dengan sahabatku itu. Akupun enggan menemuinya. Yang datang adalah sahabat, sahabat yang memberi terang dalam gelapku. Sahabat yang menawarkan masa depannya untuk ku.

 Aku mendapatkan calon imam ku dari awal aku jujur tentang semuanya yang aku lakukan.. tetapi lelaki itu tau semua apa yang aku perbuat semua tentangku.masa lalu aku.. hingga kini keanehan ku sama dia terjawab karna mungkin kah dia calon imam ku.pemimpinku.menjagaku disaat macam-macam keterpurukan ku slama ini.. lelaki itu menerima aku apa adanya dengan keadaan ku yang sudah tidak suci lagi.. dia berusaha menyayangiku dengan tulus.. tak pernah q berfikir mendapatkan lelaki seperti ini.. dengan mencintai ku sepenuh hatinya.. dia tak memandang dulu aku seperti apa, bagaimana, yang hanya dia ucapkan.. De aku akan sllu menjaga kamu disaat susah senang, sedih, duka, lara aku akan berada untukmu kapanpun kamu butuhkan.. entah apa yang aku rasakan saat ini.. senang, bahagia, mendapatkan lelaki baik sangat tulus seperti dia. Dan seiring berjalannya waktu aku mulai mencintainya aku ingin dia yang sllu disampingku dari bangun sampai terlelap.. tetapi benar dia sllu pegang omongannya.dia menjagaku, dalam setiap hari dalam tidurku, dan didalam hari-hariku dia sllu buat aku tertawa,tersenyum,bahagia tak pernah dia membuat aku nangis sedik pun.. dia tidak pernah membuat aku sedih malah sebaliknya..

 Ketika aku menanyakan apakah kamu serius menjalin hubungan dengan ku yang sudah kotor ini.. dia menjawab dengan lantang dan yakin.. iya aku serius menjalani hubungan ini bersamamu..aku akan datang ke keluarga kamu dan aku akan menikahi kamu..
 Tetapi apa yang aku lakukan aku sangat sayang padanya..aku sangat mencintainya.. ketika aku ingin pulang menemui keluargaku disana.. dia ingin mengantarku pulang..tetapi aku sllu menolak.. sesampainya aku dirumah keluargaku.. aku mengabarinya lewat pesan.. maaf ka aku pulang dan aku dah sampai dirumah.. dari setiap waktu senggang dia sllu menyempatkan untuk menanyakan kesehatan aku, bagaimana sama aku..dia khawatir sma aku yang jauh sama dia.. pada suatu malam aku pergi bersama teman-temanku disana entah apa yang aku lakukan.. aku melakukan hal yang sama terhadap temanku..aku khilaf, disini aku tak tau apa yang harus aku perbuat.. aku menghianati cintanya.kasih dan sayangnya sama kau.. tetapi aku malah menghianatinya

 Keesokan harinya aku mau pergi lagi pamitan kepada keluargaku.. ternyata lelaki itu calon imamku sudah menunggu aku untuk menjemput aku.. tetapi aku malu untuk ketemu sama dia..karna aku sudah mengkhianatinya..aku berencana pulang ku urungkan niatku aku kembali pulang.. handphone aku. aku matikan biar dia tak menghubungi aku..memang disini aku kejam membiarkan dia menunggu lama untuk menjemput aku..
 Malam tiba dia menelponku menanyakan kabarku apakah aku baik-baik saja.. dan anehnya dia menanyakan kenapa kamu berubah de..apakah ada yang salah dari aku..apakah aku menyakiti kamu..hingga kamu perlahan-lahan menjauhiku.. aku ingin kau jawab jujur ada apa dengan kamu de..
 Aku ga bisa!!!! Aku ga bisa menjalani hubungan ini sama kamu kk.. karna aku dah menghianati cinta kamu aku sudah berbuat dibelakangmu maafkan aku.. sebaiknya kamu tinggalkan aku saja.. Apa maksud dari omongan kamu de.. aku ga ngerti apa yang kamu bicarakan tadi.. iya kk.. aku sudah menghianati kamu janji aku sama kamu aku khianati begitu saja karna aku dah melakukan hal yang kotor lagi.. tetapi anehnya seharusnya dia marah sama aku..dia malah bilang.. "De.. !! Denger aku.. aku sayang sama kamu aku sudah berjanji aku akan meminang kamu aku ga perduli apa dulunya kamu..dan apa yang kamu lakukan waktu dulu itukan yang aku bilang dari awal.. "iya..!!! Maaf ka aku dah kotot dah menghianati kamu.. ya sudahlah de.. aku sekarang serahin semuanya sama kamu..tanya hati kamu.. kamu mau pilih dia apa aku.. jangan pernah kasih jawaban ke aku cuma karna kamu kasian sama aku.. aku ingin kamu jawab jujur sama hati kamu..
" iya maaf!!! Ka aku pilih dia.. aku ga bisa meneruskan hubungan ini sama kamu maaf ya ka",,
 " Ya Sudahlah de !!! Jika ini keputusan kamu aku terima dengan ikhlas.. semoga apa yang kamu lakukan bisa buat kamu bahagia bersamanya.. aku minta sama kamu..jangan kamu nangis, sedih.. aku ingin kamu sllu tersenyum, bahagia terus ya de.. aku ga mau kamu sakit lagi.. Ya sudah itu yang terakhir pesan dari aku.. lelaki yang selalu mencintai kamu dengan tulus...

 Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar